Pengantar
PKLH adalah suatu program kependudukan untuk membina anak didik supaya memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap, dan perilaku yang rasional serta bertanggung jawab tentang pengaruh timbal balik antara penduduk dengan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
PKLH juga merupakan suatu program yang dapat mengubah pandangan dan perilaku sesorang terhadap lingkungan. Orang yang tadinya masa bodoh dengan lingkungan, diharapkan dapat menjadi orang yang peduli dengan lingkungan. Orang yang tadinya hanya pemerhati lingkungan diharapkan dapat menjadi pelaku aktif dalam upaya pelestarian lingkungan. Kita dapat melihat dan dan menyaksikan sendiri betapa alam ini semakin tua dan sudah amat rusak, kemerosotan kualitas lingkungan kehidupan di bumi berlangsung terus sampai hari ini, eksploitasi sumber daya dilakukan secara semena-mena tanpa etika lingkungan. Oleh karena itu kepedulian masyarakat terhadap lingkungan harus semakin ditingkatkan, karena kepedulian masyarakat sangat berperan penting dalam pelestarian lingkungan.
Sekarang ini kepedulian terhadap lingkungan hidup semakin tinggi, tercermin dari diadakannya
• Konferensi lingkungan hidup sedunia (5 juni 1972) di Stocklolm Swedia (dikenal sebagai hari Lingkungan Hidup)
• Konferensi pembangunan dan linhkungan dilanjutkan dengan KTT Bumi di Brazil (1992). Memutuskan: Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan (PBBL). Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup.
Guna mendukung pelaksanaan PBBL di Indonesia, maka munculah PKLH, yang bertujuan:
• Mampu menjadi ajang pendidikan dalam upaya menuju kehidupan berkelanjutan di Bumi.
• Mampu menjadi warga pengamal dan pengembang IPTEK yang ramah lingkungan dan hemat SDA.
• Mampu menerima dan menjalankan etika dalam moralitas insane pembangunan berkelanjutan.
Febyanti Andini Blog (2a Matematika Stkip Garut)
Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah PKLH dan ISBD yang diampu oleh dosen Ibu Yuniar Purwanti,SP dan Bpk. Ana Maulana,Drs.,M.Pd.
Minggu, 17 Oktober 2010
Masalah Lingkungan Hidup dan Masalah Kependudukan
Di Indonesia ada dua hal yang harus ditangani serius, yaitu:
1. Masalah Lingkungan Hidup.
Masalah lingkungan hidup muncul karena manusia seringkali mengabaikan kebaradaan lingkungan. Dengan kemajuan tekhnologi yang semakin pesat, mereka menganggap tekhnologi adalah segala-sagalanya. Mereka tidak memikirkan dampak negatif dari perkembangan tekhnologi tersebut. Contohnya, mereka membangun pabrik dimana-mana, tetapi mereka tidak memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pabrik tersebut terhadap lingkungan. Misalnya polusi yang ditimbulkan dapat mencemari air, udara serta tanah sekalipun. Juga sangat merusak lingkungan bahkan alam ini, sehingga terjadi Efek Rumah Kaca ataupun Global Warming. Keadaan seperti ini sangat merugikan makhluk yang ada di bumi, bukan hanya manusia tetapi hewan dan tumbuhanpun sangat dirugikan.
Kita harus sadar bahwa lingkungan ini bisa menjadi sahabat kita ataupun menjadi musuh kita. Lingkungan akan menjadi sahabat kita apabila kita menjaga dan merawatnya. Lingkungan juga bisa menjadi musuh apabila kita tidak menjaga dan melestarikannya. Kita tidak boleh mengambil manfaatnya saja, tetapi sebagai manusia yang bijaksana kita harus menjaga dan melestarikannya.
Sekarang yang harus kita pikirkan adalah solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bukan mencari siapa yang salah. Solusinya dapat dimulai dari diri kita sendiri, dengan cara tidak menggunakan barang yang menggunakan aerosol maupun cfc, tidak membakar bahan yang menghasilkan SO4, dan lain-lain.
2. Masalah Kependudukan
Masalah kependudukan dapat diartikan sebagai kesulitan yang terjadi dalam masyarakat yang perlu diatasi dan diselesaikan dengan solusi-solusi tertentu.
Masalah – masalah kependudukan yang terjadi di Indonesia antara lain jumlah penduduk yang begitu besar, pertumbuhan penduduk yang tinggi, penyebaran penduduk yang tidak merata, urbanisasi, komposisi penduduk yang tidak menguntungkan, dan kualitas SDM yang rendah.
1. Jumlah penduduk yang begitu besar
Jumlah penduduk Indonesia sangat banyak, disebabkan pengelolaannya tidak benar. Pemerintah sudah mengupayakan agar jumlah penduduk tidak meningkat pesat dengan diadakannya program KB, tetapi masyarakat Indonesia banyak yang tidak mengunakan program tersebut. Sekarang Indonesia menempati peringkat ke-empat dunia dalam jumlah penduduk.
2. Pertumbuhan penduduk yang tinggi
Jumlah penduduk Indonesia sudah sangat banyak. Jumlah ini akan terus bertambah karena pertumbuhan jumlah penduduk juga tinggi. Hal ini disebabkan oleh angka kelahiran lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian. Pemecahan masalah ini adalah dengan menggalakkan program Keluarga Berencana (KB), tetapi program ini belum begitu berhasil, karena kurang kesadaran dari pihak masyarakat itu sendiri.
3. Penyebaran penduduk yang tidak merata
Wilayah negara kita sangat luas. Penduduk yang tinggal di wilayah negara kita tidak merata. Ada daerah yang sangat padat, namun ada juga daerah yang sangat jarang penduduknya. Pemecahan masalah persebaran penduduk ini adalah dengan melakukan transmigrasi penduduk dari tempat yang padat ke tempat yang tidak padat penduduknya, sehingga persebaran penduduk yang tidak merata bisa diatasi.
4. Urbanisasi
5. Komposisi penduduk yang tidak menguntungkan
Komposisi penduduk merupakan sebuah mata statistik dari statistik kependudukan yang membagi dan membahas masalah kependudukan dari segi umur dan jenis kelamin. Di Indonesia jenis kelamin wanita lebih banyak daripada laki-laki.
6. Kualitas SDM rendah
Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Ini mempengaruhi kualitas atau mutu penduduk kurang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bekerja. Akibatnya, masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan yang bagus. Pemecahan masalah kualitas penduduk ini adalah dengan memberikan penyuluhan dan pengarahan akan pentingnya pendidikan dalam sekolah, menambah sekolah atau tempat menimba pengetahuan baik dari segi kuantitas dan kualitas.
1. Masalah Lingkungan Hidup.
Masalah lingkungan hidup muncul karena manusia seringkali mengabaikan kebaradaan lingkungan. Dengan kemajuan tekhnologi yang semakin pesat, mereka menganggap tekhnologi adalah segala-sagalanya. Mereka tidak memikirkan dampak negatif dari perkembangan tekhnologi tersebut. Contohnya, mereka membangun pabrik dimana-mana, tetapi mereka tidak memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pabrik tersebut terhadap lingkungan. Misalnya polusi yang ditimbulkan dapat mencemari air, udara serta tanah sekalipun. Juga sangat merusak lingkungan bahkan alam ini, sehingga terjadi Efek Rumah Kaca ataupun Global Warming. Keadaan seperti ini sangat merugikan makhluk yang ada di bumi, bukan hanya manusia tetapi hewan dan tumbuhanpun sangat dirugikan.
Kita harus sadar bahwa lingkungan ini bisa menjadi sahabat kita ataupun menjadi musuh kita. Lingkungan akan menjadi sahabat kita apabila kita menjaga dan merawatnya. Lingkungan juga bisa menjadi musuh apabila kita tidak menjaga dan melestarikannya. Kita tidak boleh mengambil manfaatnya saja, tetapi sebagai manusia yang bijaksana kita harus menjaga dan melestarikannya.
Sekarang yang harus kita pikirkan adalah solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bukan mencari siapa yang salah. Solusinya dapat dimulai dari diri kita sendiri, dengan cara tidak menggunakan barang yang menggunakan aerosol maupun cfc, tidak membakar bahan yang menghasilkan SO4, dan lain-lain.
2. Masalah Kependudukan
Masalah kependudukan dapat diartikan sebagai kesulitan yang terjadi dalam masyarakat yang perlu diatasi dan diselesaikan dengan solusi-solusi tertentu.
Masalah – masalah kependudukan yang terjadi di Indonesia antara lain jumlah penduduk yang begitu besar, pertumbuhan penduduk yang tinggi, penyebaran penduduk yang tidak merata, urbanisasi, komposisi penduduk yang tidak menguntungkan, dan kualitas SDM yang rendah.
1. Jumlah penduduk yang begitu besar
Jumlah penduduk Indonesia sangat banyak, disebabkan pengelolaannya tidak benar. Pemerintah sudah mengupayakan agar jumlah penduduk tidak meningkat pesat dengan diadakannya program KB, tetapi masyarakat Indonesia banyak yang tidak mengunakan program tersebut. Sekarang Indonesia menempati peringkat ke-empat dunia dalam jumlah penduduk.
2. Pertumbuhan penduduk yang tinggi
Jumlah penduduk Indonesia sudah sangat banyak. Jumlah ini akan terus bertambah karena pertumbuhan jumlah penduduk juga tinggi. Hal ini disebabkan oleh angka kelahiran lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian. Pemecahan masalah ini adalah dengan menggalakkan program Keluarga Berencana (KB), tetapi program ini belum begitu berhasil, karena kurang kesadaran dari pihak masyarakat itu sendiri.
3. Penyebaran penduduk yang tidak merata
Wilayah negara kita sangat luas. Penduduk yang tinggal di wilayah negara kita tidak merata. Ada daerah yang sangat padat, namun ada juga daerah yang sangat jarang penduduknya. Pemecahan masalah persebaran penduduk ini adalah dengan melakukan transmigrasi penduduk dari tempat yang padat ke tempat yang tidak padat penduduknya, sehingga persebaran penduduk yang tidak merata bisa diatasi.
4. Urbanisasi
5. Komposisi penduduk yang tidak menguntungkan
Komposisi penduduk merupakan sebuah mata statistik dari statistik kependudukan yang membagi dan membahas masalah kependudukan dari segi umur dan jenis kelamin. Di Indonesia jenis kelamin wanita lebih banyak daripada laki-laki.
6. Kualitas SDM rendah
Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Ini mempengaruhi kualitas atau mutu penduduk kurang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bekerja. Akibatnya, masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan yang bagus. Pemecahan masalah kualitas penduduk ini adalah dengan memberikan penyuluhan dan pengarahan akan pentingnya pendidikan dalam sekolah, menambah sekolah atau tempat menimba pengetahuan baik dari segi kuantitas dan kualitas.
Pembangunan
Pembangunan adalah proses pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan pemanfaatan tekhnologi.
Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987). Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Indikator pembangunan
• Mortalitas bayi yang terus menurun
• Umur harapan hidup meningkat
• Kemampuan baca tulis meningkat
• Anak sekolah semakin banyak
• Produksi pangan meningkat cepat daripada pertumbuhan penduduk.
Peran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Peran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup sangat penting, diantaranya:
• Berusaha mengubah tingkah laku peserta didik dalam berpikir dan bersikap.
• PKLH diarahkan untuk meningkatkan kemampuan menusia dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan lingkungan dan kepadatan penduduk.
• PKLH harus diberikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, baik formal maupun nonformal.
Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987). Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Indikator pembangunan
• Mortalitas bayi yang terus menurun
• Umur harapan hidup meningkat
• Kemampuan baca tulis meningkat
• Anak sekolah semakin banyak
• Produksi pangan meningkat cepat daripada pertumbuhan penduduk.
Peran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Peran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup sangat penting, diantaranya:
• Berusaha mengubah tingkah laku peserta didik dalam berpikir dan bersikap.
• PKLH diarahkan untuk meningkatkan kemampuan menusia dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan lingkungan dan kepadatan penduduk.
• PKLH harus diberikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, baik formal maupun nonformal.
Selasa, 01 Juni 2010
Dampak IPTEK terhadap Kehidupan dan Sistem Pendidikan
Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia pada zaman dulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi, yaitu teknologi sederhana.
Terkait dengan teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan masalah. Ahli lain, Kast & Rosenweig menyatakan Technology is the art of utilizing scientific knowledge. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang definisi teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia.
Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Seseorang menggunakan teknologi, karena menusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih mudah, lebih aman, dan lebih-lebih yang lain.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang menggunakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat pakar teknologi "dunia" terhadap pengembangan teknologi.
Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu :
1. Pesawat terbang,
2. Maritim dan perkapalan,
3. Alat transportasi,
4. Elektronika dan komunikasi,
5. Energi,
6. Rekayasa ,
7. Alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan
8. Pertahanan dan keamanan
Pada satu sisi, perkembangan dunia iptek yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan. Begitupula dengan telah ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia.
Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Namun, pada sisi lain, pesatnya kemajuan iptek ternyata juga cukup banyak membawa pengaruh negatif. Semakin kuatnya gejala "dehumanisasi", tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan dewasa ini, merupakan salah satu oleh-oleh yang dibawa kemajuan iptek tersebut. Bahkan, sampai tataran tertentu, dampak negatif dari peradaban yang tinggi itu dapat melahirkan kecenderungan pengingkaran manusia sebagai homo-religousus atau makhluk teomorfis.
Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagian dan imortalitas.
Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia.
Perbudakan dan penjajahan di North America, Asia dan Afrika hanya memungkinkan melalui dukungan iptek. Perkembangan iptek di Eropa Barat membuahkan revolusi industri yang menindas kelas pekerja dan yang melahirkan komunisme. Produksi weapons of mass destruction, baik kimia, biologi ataupun nuklir tentu saja tidak bisa dipisahkan dari iptek, belum lagi menyebut kerusakan
Terkait dengan teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan masalah. Ahli lain, Kast & Rosenweig menyatakan Technology is the art of utilizing scientific knowledge. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang definisi teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia.
Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Seseorang menggunakan teknologi, karena menusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih mudah, lebih aman, dan lebih-lebih yang lain.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang menggunakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat pakar teknologi "dunia" terhadap pengembangan teknologi.
Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu :
1. Pesawat terbang,
2. Maritim dan perkapalan,
3. Alat transportasi,
4. Elektronika dan komunikasi,
5. Energi,
6. Rekayasa ,
7. Alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan
8. Pertahanan dan keamanan
Pada satu sisi, perkembangan dunia iptek yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan. Begitupula dengan telah ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia.
Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Namun, pada sisi lain, pesatnya kemajuan iptek ternyata juga cukup banyak membawa pengaruh negatif. Semakin kuatnya gejala "dehumanisasi", tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan dewasa ini, merupakan salah satu oleh-oleh yang dibawa kemajuan iptek tersebut. Bahkan, sampai tataran tertentu, dampak negatif dari peradaban yang tinggi itu dapat melahirkan kecenderungan pengingkaran manusia sebagai homo-religousus atau makhluk teomorfis.
Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagian dan imortalitas.
Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia.
Perbudakan dan penjajahan di North America, Asia dan Afrika hanya memungkinkan melalui dukungan iptek. Perkembangan iptek di Eropa Barat membuahkan revolusi industri yang menindas kelas pekerja dan yang melahirkan komunisme. Produksi weapons of mass destruction, baik kimia, biologi ataupun nuklir tentu saja tidak bisa dipisahkan dari iptek, belum lagi menyebut kerusakan
Ekosistem alam akibat dari kemajuan iptek.
Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan,oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.
Dari segala dampak terburuk dari perkembangan iptek adalah dampak terhadap perilaku dari manusia penciptanya. Iptek telah membuat sang penciptanya dihinggapi sikap over confidence dan superioritas tidak saja terhadap alam lingkungan melainkan pula terhadap sesamanya. Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat (negara Barat) terhadap pihak yang lemah (negara dunia ketiga) merupakan ciri yang melekat sejak lahirnya revolusi industri.
Oleh karena itu, dalam menghadapi fenomena ini pemerintah dianggap perlu mengembangkan suatu sistem pendidikan yang berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi tersebut. Tujuannya sangat sederhana, membuat pelajar-pelajar di negeri kita dapat bersaing dan mengejar ketertinggalan dari pelajar di negeri maju tanpa perlu kehilangan nilai-nilai kemanusian dan budaya yang kita miliki. Atau dengan kata lain, peserta didik di jenjang pendidikan dasar perlu diarahkan dan dibekali pendidikan teknologi guna menuju masyarakat yang "melek teknologi" yaitu bercirikan mampu mengenal, mengerti, memilih, menggunakan, memelihara, memperbaiki, menilai, menghasilkan produk teknologi sederhana, dan peduli terhadap masalah yang berkaitan dengan teknologi.
Bahan kajian yang diperuntukkan bagi jenjang pendidikan dasar dapat mencakup ranah teknologi dan masyarakat, produk teknologi, serta perancangan dan pembuatan karya teknologi sederhana. Agar perolehannya bermakna, maka pembelajaran kurikulum pendidikan teknologi hendaknya berintikan pemecahan masalah dengan pendekatan empat pilar belajar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Dalam mengembangkan kurikulum, salah satu prinsip yang perlu diperhatikan adalah "sesuai dengan kebutuhan". Namun, kesepakatan ini baru menjadi masalah bila diikuti pertanyaan lanjutan, misalnya kebutuhan siapa? untuk masyarakat yang mana? masyarakat yang mau diarahkan ke mana? masyarakat agraris, masyarakat industri, masyarakat saat ini, masyarakat tahun 2005, atau masyarakat yang melek teknologi.
Kurikulum sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan selalu mendapat sorotan masyarakat termasuk pejabat, ilmuwan, kalangan industri, orang tua dan lain-lain yang merasa berkepentingan dengan hasil-hasil pendidikan. Bahkan, Winarno Surakhmad, (2000:2) mensinyalir bahwa kurikulum yang diciptakan untuk "Memecahkan Masalah Tertentu Ternyata Lahir Justru sebagai Masalah". Oleh karenanya, pengembang kurikulum harus dapat menganalisis, mengadakan koreksi terhadap kekurangan-kekurangannya dan mencari alternatif pemecahan masalah yang kreatif, inovatif dan misioner.
Soedijarto (1993:125) mengemukakan bahwa dalam menghadapi abad ke-21 ada tiga indikator utama dari hasil pendidikan yang bermutu dan tercermin dari kemampuan pribadi lulusannya, yaitu :
1. Kemampuan untuk bertahan dalam kehidupan,
2. Kemampuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan baik dalam segi sosial budaya dalam segi politik dalam segi ekonomi maupun dalam segi fisik biologis, dan
3. Kemampuan untuk belajar terus pada pendidikan lanjutan. Sementara itu, Wardiman (1996: 3) menyatakan bahwa pendidikan hendaknya dapat meningkatkan kreativitas, etos kerja dan wawasan keunggulan peserta didik.
Dari dua pendapat tersebut nampaknya terdapat kesamaan misi dan visi yang didasarkan pada kenyataan bahwa dunia nyata yang akan dihadapi oleh para peserta didik penuh dengan persaingan. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan guna mengantisipasinya dan dapat mencari alternatif penyelesaian masalah kehidupan yang dihadapinya.
Salah satu masalah kehidupan yang akan dihadapi para lulusan peserta didik adalah adanya perubahan masa yang akan datang yang belum pasti bentuk dan arahnya. Namun, yang pasti adalah adanya tantangan yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia yang salah satunya berwujud teknologi.
Atas dasar landasan pemikiran tersebut di atas, maka ruang lingkup kajian pendidikan teknologi yang dikembangkan dapat mencakup sebagai berikut :
1. Pilar teknologi, yaitu aspek-aspek yang diproses untuk menghasilkan sesuatu produk teknologi yang merupakan bahan ajar tentang: materi/bahan, energi, dan informasi,
2. Domain teknologi, yaitu suatu fokus bahan kajian yang digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan bahan pelajaran yang terdiri atas :
a. teknologi dan masyarakat (berintikan teknologi untuk kehidupan sehari-hari, industri, profesi, dan lingkupan hidup),
b. produk teknologi dan sistem (berintikan bahan, energi dan informasi),
c. perancangan dan pembuatan karya teknologi (berintikan gambar dan perancangan, pembuatan dan kaji ulang perancangan), dan
3. Area teknologi, yaitu batas kawasan teknologi dalam program pendidikan teknologi, hal ini antara lain teknologi produksi, teknologi komunikasi, teknologi energi dan bioteknologi.
Dengan ketiga ruang lingkup ini, maka pada dasarnya dalam pembelajaran pendidikan teknologi peserta didik akan memiliki kemampuan-kemampuan dalam hal :
1. Menggunakan dan memelihara produk teknologi,
2. Menyadari tentang proses teknologi dengan prinsip kerjanya,
3. Menyadari dampak teknologi terhadap manusia,
4. Mampu "mengevaluasi" proses dan produk teknologi, dan
5. Mampu membuat hasil teknologi alternatif yang disederhanakan bahkan yang paling sederhana.
Dari tujuan dan lingkup pendidikan teknologi di atas, berikut ini adalah pokok-pokok bahan ajar yang dianggap "ampuh" untuk peserta didik di jenjang pendidikan dasar (BTE, 1998), antara lain yaitu: Keterampilan dasar teknik, Penjernihan air, Bioteknologi, Pengolahan macam-macam bahan, Teknologi dan profesi, Teknologi produksi, Persambungan dan penguatan konstruksi, Konversi energi, Prinsip-prinsip teknik, Sistem teknik (mesin dan reka cipta), Transportasi dan navigasi, Teknologi dan lingkungan hidup, Instalasi listrik, Komunikasi, Komputer dan teknologi kontrol, Desain teknologi terapan, dan Usaha milik sendiri
Agar perolehan peserta didik menjadi bermakna, maka pendidikan teknologi harus dirancang dengan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan kemampuan memecahkan masalah, mampu berpikir alternatif, dan mampu menilai sendiri hasil karyanya.
Hal ini amat selaras dengan Soedijarto (2000: 69) yang merekomendasikan bahwa untuk memasuki abad ke-21 dalam proses pembelajaran diperlukan:
1. Learning to know, yaitu peserta didik akan dapat memahami dan menghayati bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh dari fenomena yang terdapat dalam lingkungannya. Dengan pendekatan ini diharapkan akan lahir generasi yang memiliki kepercayaan bahwa manusia sebagai kalifah Tuhan di bumi diberi kemampuan untuk mengelola dan mendayagunakan alam bagi kemajuan taraf hidup manusia,
2. Learning to do, yaitu menerapkan suatu upaya agar peserta didik menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang bermakna,
3. Learning to be, yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik yang mandiri, dan
4. Learning to live together, yaitu pendekatan melalui penerapan paradigma ilmu pengetahuan, seperti pendekatan menemukan dan pendekatan menyelidik akan memungkinkan peserta didik menemukan kebahagiaan dalam belajar.
Hal yang juga tak kalah pentingnya dalam mendukung sistem pendidikan berbasis teknologi itu adalah menyelaraskan pengajaran iptek dengan iman dan taqwa (imtaq). Karena bagaimanapun, kecerdasan seseorang tidak akan membawa dampak positif yang berarti apabila mereka tidak bermoral. Mereka bisa saja menjadi ahli kimia yang handal, akan tetapi tanpa dibekali moral, kemampuan mereka hanya akan digunakan untuk menciptakan senjata-senjata kimiawi yang dapat menghancurkan umat manusia. Sebaliknya dengan moral yang baik, mereka dapat menemukan bahan bakar alternatif yang dapat bermanfaat di tengah krisis minyak yang terjadi di dunia pada abad ini.
Sumber http://gumuxranger.web.id/documents/dampak_kemajuan_ilmu_pengetahuan_dan_teknologi__ip.html
Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan,oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.
Dari segala dampak terburuk dari perkembangan iptek adalah dampak terhadap perilaku dari manusia penciptanya. Iptek telah membuat sang penciptanya dihinggapi sikap over confidence dan superioritas tidak saja terhadap alam lingkungan melainkan pula terhadap sesamanya. Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat (negara Barat) terhadap pihak yang lemah (negara dunia ketiga) merupakan ciri yang melekat sejak lahirnya revolusi industri.
Oleh karena itu, dalam menghadapi fenomena ini pemerintah dianggap perlu mengembangkan suatu sistem pendidikan yang berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi tersebut. Tujuannya sangat sederhana, membuat pelajar-pelajar di negeri kita dapat bersaing dan mengejar ketertinggalan dari pelajar di negeri maju tanpa perlu kehilangan nilai-nilai kemanusian dan budaya yang kita miliki. Atau dengan kata lain, peserta didik di jenjang pendidikan dasar perlu diarahkan dan dibekali pendidikan teknologi guna menuju masyarakat yang "melek teknologi" yaitu bercirikan mampu mengenal, mengerti, memilih, menggunakan, memelihara, memperbaiki, menilai, menghasilkan produk teknologi sederhana, dan peduli terhadap masalah yang berkaitan dengan teknologi.
Bahan kajian yang diperuntukkan bagi jenjang pendidikan dasar dapat mencakup ranah teknologi dan masyarakat, produk teknologi, serta perancangan dan pembuatan karya teknologi sederhana. Agar perolehannya bermakna, maka pembelajaran kurikulum pendidikan teknologi hendaknya berintikan pemecahan masalah dengan pendekatan empat pilar belajar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Dalam mengembangkan kurikulum, salah satu prinsip yang perlu diperhatikan adalah "sesuai dengan kebutuhan". Namun, kesepakatan ini baru menjadi masalah bila diikuti pertanyaan lanjutan, misalnya kebutuhan siapa? untuk masyarakat yang mana? masyarakat yang mau diarahkan ke mana? masyarakat agraris, masyarakat industri, masyarakat saat ini, masyarakat tahun 2005, atau masyarakat yang melek teknologi.
Kurikulum sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan selalu mendapat sorotan masyarakat termasuk pejabat, ilmuwan, kalangan industri, orang tua dan lain-lain yang merasa berkepentingan dengan hasil-hasil pendidikan. Bahkan, Winarno Surakhmad, (2000:2) mensinyalir bahwa kurikulum yang diciptakan untuk "Memecahkan Masalah Tertentu Ternyata Lahir Justru sebagai Masalah". Oleh karenanya, pengembang kurikulum harus dapat menganalisis, mengadakan koreksi terhadap kekurangan-kekurangannya dan mencari alternatif pemecahan masalah yang kreatif, inovatif dan misioner.
Soedijarto (1993:125) mengemukakan bahwa dalam menghadapi abad ke-21 ada tiga indikator utama dari hasil pendidikan yang bermutu dan tercermin dari kemampuan pribadi lulusannya, yaitu :
1. Kemampuan untuk bertahan dalam kehidupan,
2. Kemampuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan baik dalam segi sosial budaya dalam segi politik dalam segi ekonomi maupun dalam segi fisik biologis, dan
3. Kemampuan untuk belajar terus pada pendidikan lanjutan. Sementara itu, Wardiman (1996: 3) menyatakan bahwa pendidikan hendaknya dapat meningkatkan kreativitas, etos kerja dan wawasan keunggulan peserta didik.
Dari dua pendapat tersebut nampaknya terdapat kesamaan misi dan visi yang didasarkan pada kenyataan bahwa dunia nyata yang akan dihadapi oleh para peserta didik penuh dengan persaingan. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan guna mengantisipasinya dan dapat mencari alternatif penyelesaian masalah kehidupan yang dihadapinya.
Salah satu masalah kehidupan yang akan dihadapi para lulusan peserta didik adalah adanya perubahan masa yang akan datang yang belum pasti bentuk dan arahnya. Namun, yang pasti adalah adanya tantangan yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia yang salah satunya berwujud teknologi.
Atas dasar landasan pemikiran tersebut di atas, maka ruang lingkup kajian pendidikan teknologi yang dikembangkan dapat mencakup sebagai berikut :
1. Pilar teknologi, yaitu aspek-aspek yang diproses untuk menghasilkan sesuatu produk teknologi yang merupakan bahan ajar tentang: materi/bahan, energi, dan informasi,
2. Domain teknologi, yaitu suatu fokus bahan kajian yang digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan bahan pelajaran yang terdiri atas :
a. teknologi dan masyarakat (berintikan teknologi untuk kehidupan sehari-hari, industri, profesi, dan lingkupan hidup),
b. produk teknologi dan sistem (berintikan bahan, energi dan informasi),
c. perancangan dan pembuatan karya teknologi (berintikan gambar dan perancangan, pembuatan dan kaji ulang perancangan), dan
3. Area teknologi, yaitu batas kawasan teknologi dalam program pendidikan teknologi, hal ini antara lain teknologi produksi, teknologi komunikasi, teknologi energi dan bioteknologi.
Dengan ketiga ruang lingkup ini, maka pada dasarnya dalam pembelajaran pendidikan teknologi peserta didik akan memiliki kemampuan-kemampuan dalam hal :
1. Menggunakan dan memelihara produk teknologi,
2. Menyadari tentang proses teknologi dengan prinsip kerjanya,
3. Menyadari dampak teknologi terhadap manusia,
4. Mampu "mengevaluasi" proses dan produk teknologi, dan
5. Mampu membuat hasil teknologi alternatif yang disederhanakan bahkan yang paling sederhana.
Dari tujuan dan lingkup pendidikan teknologi di atas, berikut ini adalah pokok-pokok bahan ajar yang dianggap "ampuh" untuk peserta didik di jenjang pendidikan dasar (BTE, 1998), antara lain yaitu: Keterampilan dasar teknik, Penjernihan air, Bioteknologi, Pengolahan macam-macam bahan, Teknologi dan profesi, Teknologi produksi, Persambungan dan penguatan konstruksi, Konversi energi, Prinsip-prinsip teknik, Sistem teknik (mesin dan reka cipta), Transportasi dan navigasi, Teknologi dan lingkungan hidup, Instalasi listrik, Komunikasi, Komputer dan teknologi kontrol, Desain teknologi terapan, dan Usaha milik sendiri
Agar perolehan peserta didik menjadi bermakna, maka pendidikan teknologi harus dirancang dengan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan kemampuan memecahkan masalah, mampu berpikir alternatif, dan mampu menilai sendiri hasil karyanya.
Hal ini amat selaras dengan Soedijarto (2000: 69) yang merekomendasikan bahwa untuk memasuki abad ke-21 dalam proses pembelajaran diperlukan:
1. Learning to know, yaitu peserta didik akan dapat memahami dan menghayati bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh dari fenomena yang terdapat dalam lingkungannya. Dengan pendekatan ini diharapkan akan lahir generasi yang memiliki kepercayaan bahwa manusia sebagai kalifah Tuhan di bumi diberi kemampuan untuk mengelola dan mendayagunakan alam bagi kemajuan taraf hidup manusia,
2. Learning to do, yaitu menerapkan suatu upaya agar peserta didik menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang bermakna,
3. Learning to be, yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik yang mandiri, dan
4. Learning to live together, yaitu pendekatan melalui penerapan paradigma ilmu pengetahuan, seperti pendekatan menemukan dan pendekatan menyelidik akan memungkinkan peserta didik menemukan kebahagiaan dalam belajar.
Hal yang juga tak kalah pentingnya dalam mendukung sistem pendidikan berbasis teknologi itu adalah menyelaraskan pengajaran iptek dengan iman dan taqwa (imtaq). Karena bagaimanapun, kecerdasan seseorang tidak akan membawa dampak positif yang berarti apabila mereka tidak bermoral. Mereka bisa saja menjadi ahli kimia yang handal, akan tetapi tanpa dibekali moral, kemampuan mereka hanya akan digunakan untuk menciptakan senjata-senjata kimiawi yang dapat menghancurkan umat manusia. Sebaliknya dengan moral yang baik, mereka dapat menemukan bahan bakar alternatif yang dapat bermanfaat di tengah krisis minyak yang terjadi di dunia pada abad ini.
Sumber http://gumuxranger.web.id/documents/dampak_kemajuan_ilmu_pengetahuan_dan_teknologi__ip.html
Fenomena Remaja di Era Global
Di pojok belakang ruangan sebuah SMU, saat proses belajar-mengajar berlangsung, beberapa siswa tampak cekikikan, dan sesekali terdiam, saat ibu guru menoleh ke arah mereka. Dari raut muka mereka menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan dan membuat sedikit curiga ibu guru. Tetapi ibu guru hanya mendiamkan saja. Ia membatin, paling mereka hanya bercanda dengan sesama temannya. Selang beberapa hari beredar kabar, bahwa banyak siswa yang menyimpan film porno (blue film) dalam memory card hp (handphone) mereka.
Mendengar semilir kabar tersebut, ibu guru mengingat kejadian tempo hari di kelasnya. Ia mengaitkannya dengan desas-desus tersebut. Kemudian ibu guru tersebut langsung membicarakan dugaannya kepada kepala sekolah. Satu hari kemudian, menjelang istirahat, ada pengumuman dari kantor BP, agar setiap guru memeriksa tas setiap siswa. Setelah acara razia berlangsung, ternyata banyak ditemukan HP yang menyimpan film polos dari tas beberapa siswa-siswi.
Kejadian ini bukan rekaan semata, tetapi sungguh terjadi di salah satu sekolah di Yogyakarta. Kasus di atas setidaknya membawa kita untuk berfikir bahwa inilah satu sisi negatif dampak globalisasi, walau pada sisi lain membawa nilai positif. Perangkat teknologi multimedia mutakhir telah menjadikan sesuatu serba mungkin; dan menghadirkan sesuatu di hadapan Anda tanpa membutuhkan banyak ruang dan waktu.
Memahami Globalisasi
Makanan apa sebenarnya globalisasi itu? Sehingga semua orang mengamini �ideologi’ ini. Istilah Marshal Mc Luhan mengupamakan dunia ini sebagai desa buana (global village), dimana desa buana ini ditandai dengan hilangnya semua batas yang ada di dunia. Entah itu batas ruang, waktu, budaya, nilai, moral, agama, dll. Misalnya kita dapat melihat bagaimana remaja usia belia berasyik masyuk mengakses pornografi di warnet. Sejak mulai ia mengakses hardcore (pesta seks berpasangan), softcore (tanpa pasangan) sex machine (pesta seks dengan perangkat mesin), sadomasochist (seks dengan variasi kekerasan), sampai seks yang melibatkan manusia dengan binatang.
Di sini hilang sudah batas dunia usia dewasa, remaja, dan anak-anak. Pornografi yang sangat gamblang disajikan melalui teknologi multimedia ini memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengaksesnya tanpa halangan batas-batas umur.
Hilangnya batas budaya juga sangat kentara revolusinya. Hal ini dapat kita saksikan, bagaimana proses penyeragaman pakaian, gaya rambut, bahkan kepribadian remaja di dunia berlangsung. Mengusung selebritis yang dijadikan idola melalui media, dengan style pakaian, rambut, gaya hidup tertentu, cukup ampuh membuat remaja tersihir mengikuti trend tersebut. Jangan heran jika apa yang dipakai Britney Spears hari ini saat konser di Amerika, lusa sudah jutaan remaja Indonesia “copy-an� Britney Spears tersebar di jalan-jalan, dan mal-mal di negeri ini.
Efek dari pudarnya batas-batas tersebut, menjurus kepada proses penyeragaman mondial, yang mengakibatkan kepada punahnya khazanah budaya regional, maupun lokal, yang menjadi ciri kepribadian sebuah bangsa, termasuk juga agama.
Sebagian orang menunjuk bahwa dalang penyeragaman ini adalah Amerika. Argumennya merujuk kepada penanaman ideologi kapitalisme yang dibangun melalui media, ilmu pengetahuan; entah itu melalui film, kontes-kontes, dan acara rendezvous lainnya.
Sebagian orang memilih bahwa tidak ada dalang dalam proses penyeragaman ini. Layaknya hukum yang berlaku dalam globalisasi, yang ada hanyalah persaingan budaya yang serba ketat dan cepat. Hukum persaingannya sudah melampaui persaingan ala Darwinian yang berujar siapa yang mampu bertahan merekalah yang akan terus hidup (survival of the fites). Tetapi capainnya sudah pada siapa yang mampu menyerang dialah yang akan terus hidup (homo homini lupus).
Dalam persaingan ini kadang bisa saja tawaran budaya dari dunia Barat tidak mempunyai tempat, dan belahan dunia lain (Asia Tenggara) mampu menjadi icon budaya yang diamini sebagian besar remaja di dunia. Kasus ini dapat kita temukan pada gaya rambut rebounding yang meniru gaya F4 yang berasal dari Taiwan; merebaknya celana ala korea, kartun Jepang yang beredar di pasar-pasar Indonesia; dan musik gamelan, mocopat yang digemari oleh remaja di New York Amerika Serikat.
Sikap Kita
Contoh-contoh di atas memberi pengertian kepada kita bahwa dalam globalisasi hukum persaingan, transparansi, sangat dominan. Selain itu, proses penyeragaman dan pertukaran budaya antar masing-masing bangsa tengah berlangsung. Jadi sudah sepantasnya kita sebagai remaja muslim dan warga negara Indonesia mempertahankan apa yang menjadi milik budaya kita. Seperti diutarakan Sejarawan Senior Kuntowijoyo, bahwa budaya adalah identitas, dan agama adalah nilai dan makna dalam hidup. Sudah seharusnya kita menjadi tuan bagi budaya kita, dan sebatas penonton bagi budaya bangsa lain.
Kita tidak bisa dengan buta meniru budaya orang lain, karena kita selamanya akan terasing (alienasi) dari diri pribadi yang menganut budaya, agama, dan norma sangat berlainan dengan orang lain. Mengapa terasing? Karena kita tidak pernah memutuskan terhadap diri kita, pribadi kita hanya bentuk jelmaan dari idola-idola yang telah diseting di pentas. Dan di belakang para idola adalah mereka para pemodal-pemodal yang menginginkan pakaian dan kosmetik mereka terjual, dan sasaran konsumennya adalah kita. Itulah yang disebut kapitalisme.[Ahmad Saifullah Ahsa - Penulis aktif di Lembaga Kajian KUTUB Yogyakarta]
Sumber www.gaulislam.com
Mendengar semilir kabar tersebut, ibu guru mengingat kejadian tempo hari di kelasnya. Ia mengaitkannya dengan desas-desus tersebut. Kemudian ibu guru tersebut langsung membicarakan dugaannya kepada kepala sekolah. Satu hari kemudian, menjelang istirahat, ada pengumuman dari kantor BP, agar setiap guru memeriksa tas setiap siswa. Setelah acara razia berlangsung, ternyata banyak ditemukan HP yang menyimpan film polos dari tas beberapa siswa-siswi.
Kejadian ini bukan rekaan semata, tetapi sungguh terjadi di salah satu sekolah di Yogyakarta. Kasus di atas setidaknya membawa kita untuk berfikir bahwa inilah satu sisi negatif dampak globalisasi, walau pada sisi lain membawa nilai positif. Perangkat teknologi multimedia mutakhir telah menjadikan sesuatu serba mungkin; dan menghadirkan sesuatu di hadapan Anda tanpa membutuhkan banyak ruang dan waktu.
Memahami Globalisasi
Makanan apa sebenarnya globalisasi itu? Sehingga semua orang mengamini �ideologi’ ini. Istilah Marshal Mc Luhan mengupamakan dunia ini sebagai desa buana (global village), dimana desa buana ini ditandai dengan hilangnya semua batas yang ada di dunia. Entah itu batas ruang, waktu, budaya, nilai, moral, agama, dll. Misalnya kita dapat melihat bagaimana remaja usia belia berasyik masyuk mengakses pornografi di warnet. Sejak mulai ia mengakses hardcore (pesta seks berpasangan), softcore (tanpa pasangan) sex machine (pesta seks dengan perangkat mesin), sadomasochist (seks dengan variasi kekerasan), sampai seks yang melibatkan manusia dengan binatang.
Di sini hilang sudah batas dunia usia dewasa, remaja, dan anak-anak. Pornografi yang sangat gamblang disajikan melalui teknologi multimedia ini memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengaksesnya tanpa halangan batas-batas umur.
Hilangnya batas budaya juga sangat kentara revolusinya. Hal ini dapat kita saksikan, bagaimana proses penyeragaman pakaian, gaya rambut, bahkan kepribadian remaja di dunia berlangsung. Mengusung selebritis yang dijadikan idola melalui media, dengan style pakaian, rambut, gaya hidup tertentu, cukup ampuh membuat remaja tersihir mengikuti trend tersebut. Jangan heran jika apa yang dipakai Britney Spears hari ini saat konser di Amerika, lusa sudah jutaan remaja Indonesia “copy-an� Britney Spears tersebar di jalan-jalan, dan mal-mal di negeri ini.
Efek dari pudarnya batas-batas tersebut, menjurus kepada proses penyeragaman mondial, yang mengakibatkan kepada punahnya khazanah budaya regional, maupun lokal, yang menjadi ciri kepribadian sebuah bangsa, termasuk juga agama.
Sebagian orang menunjuk bahwa dalang penyeragaman ini adalah Amerika. Argumennya merujuk kepada penanaman ideologi kapitalisme yang dibangun melalui media, ilmu pengetahuan; entah itu melalui film, kontes-kontes, dan acara rendezvous lainnya.
Sebagian orang memilih bahwa tidak ada dalang dalam proses penyeragaman ini. Layaknya hukum yang berlaku dalam globalisasi, yang ada hanyalah persaingan budaya yang serba ketat dan cepat. Hukum persaingannya sudah melampaui persaingan ala Darwinian yang berujar siapa yang mampu bertahan merekalah yang akan terus hidup (survival of the fites). Tetapi capainnya sudah pada siapa yang mampu menyerang dialah yang akan terus hidup (homo homini lupus).
Dalam persaingan ini kadang bisa saja tawaran budaya dari dunia Barat tidak mempunyai tempat, dan belahan dunia lain (Asia Tenggara) mampu menjadi icon budaya yang diamini sebagian besar remaja di dunia. Kasus ini dapat kita temukan pada gaya rambut rebounding yang meniru gaya F4 yang berasal dari Taiwan; merebaknya celana ala korea, kartun Jepang yang beredar di pasar-pasar Indonesia; dan musik gamelan, mocopat yang digemari oleh remaja di New York Amerika Serikat.
Sikap Kita
Contoh-contoh di atas memberi pengertian kepada kita bahwa dalam globalisasi hukum persaingan, transparansi, sangat dominan. Selain itu, proses penyeragaman dan pertukaran budaya antar masing-masing bangsa tengah berlangsung. Jadi sudah sepantasnya kita sebagai remaja muslim dan warga negara Indonesia mempertahankan apa yang menjadi milik budaya kita. Seperti diutarakan Sejarawan Senior Kuntowijoyo, bahwa budaya adalah identitas, dan agama adalah nilai dan makna dalam hidup. Sudah seharusnya kita menjadi tuan bagi budaya kita, dan sebatas penonton bagi budaya bangsa lain.
Kita tidak bisa dengan buta meniru budaya orang lain, karena kita selamanya akan terasing (alienasi) dari diri pribadi yang menganut budaya, agama, dan norma sangat berlainan dengan orang lain. Mengapa terasing? Karena kita tidak pernah memutuskan terhadap diri kita, pribadi kita hanya bentuk jelmaan dari idola-idola yang telah diseting di pentas. Dan di belakang para idola adalah mereka para pemodal-pemodal yang menginginkan pakaian dan kosmetik mereka terjual, dan sasaran konsumennya adalah kita. Itulah yang disebut kapitalisme.[Ahmad Saifullah Ahsa - Penulis aktif di Lembaga Kajian KUTUB Yogyakarta]
Sumber www.gaulislam.com
Rabu, 26 Mei 2010
Sintesa Budaya dan Peradaban Baru Indonesia
Oleh: Soetrisno Bachir
Saudara-saudaraku sebangsa dan se-Tanah Air
Hari-hari ini hingga beberapa waktu mendatang sungguh merupakan saat-saat penting bagi Indonesia. Bukan saja karena pada tahun ini Indonesia memperingati Seabad Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, serta 10 tahun Reformasi. Lebih dari itu, saat-saat sekarang juga merupakan saat Indonesia menjelang menghadapi peristiwa dan keadaan besar yang akan menentukan nasib bangsa di masa depan.
Pesta demokrasi 2009 akan segera dilangsungkan buat memilih wakil-wakilnya di lembaga legislatif, serta memilih presiden dan wakil presiden untuk masa`jabatan lima tahun ke depan. Hal tersebut akan benar-benar menentukan bagaimana wajah Indonesia mendatang. Tapi tidak berarti bahwa persoalan paling penting bagi Indonesia adalah siapa yang akan terpilih sebagai presiden dan wakil presiden mendatang. Lebih dari itu adalah ke mana kepala negara terpilih bersama seluruh bangsa ini akan membawa Indonesia ke depan, menghadapi persoalan dunia yang akan semakin menantang. Pertanyaan itulah yang sekarang harus dijawab seluruh bangsa ini, dan tentu juga oleh pemimpinnya.
Masalah politik, ekonomi, sosial, dan bahkan lingkungan yang dihadapi dunia telah sedemikian kait mengait tanpa terpisahkan. Sekat-sekat antarbangsa telah semakin menipis sebagaimana sekat antarbudaya, bahkan antardisiplin ilmu pengetahuan. Hubungan politik antarnegara secara umum memang telah semakin mencair. Tetapi pertikaian negara model lama masih terjadi seperti pada krisis Rusia-Georgia sekarang ini. Masalah Palestina yang menjadi persoalan paling rawan bagi upaya mewujudkan perdamaian dunia, belum pula terselesaikan. Konflik politik internal suatu negara seperti di Myanmar serta Zimbabwe sedikit banyak juga berpengaruh pada stabilitas dunia.
Di bidang ekonomi, ancaman kelesuan yang menbayangi perekonomian Amerika terus dicermati para ekonom, mengingat pengaruhnya yang besar bagi ekonomi dunia. Memang ada optimisme bahwa perekonomian Amerika akan segera membaik setelah Tahun 2009 yang juga berarti membaiknya perekonomian dunia. Tetapi saat ini, puncak kelesuan ekonomi tersebut belum terlewati. Kemajuan ekonomi Asia yang dimotori oleh pertumbuhan ekonomi China dan India diperkirakan akan segera mengubah peta perekonomian global. Namun laju pertambahan penduduk dunia, menipisnya cadangan minyak bumi, serta bayang-bayang keterbatasan kemampuan dunia dalam penyediaan pangan perlu diantisipasi.
Masalah sosial yang terkait dengan perekonomian yang masih membayangi dunia adalah kemiskinan. Masalah ini juga masih merupakan persoalan mendasar Indonesia sehingga badan-badan dunia menekankan agar pengentasannya diprioritaskan. Sebanyak 34,96 juta warga miskin menurut ukuran pemerintah, atau lebih dari dua kali lipat jumlah itu menurut ukuran Bank Dunia, bukan angka yang sedikit untuk diabaikan. Tingkat partisipasi pendidikan yang rendah pada sebagian masyarakat dunia juga merupakan persoalan bagi Indonesia.
Tingkat kematian ibu dan balita, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dan bahkan ancaman Tuberculosis, yang cenderung luput dari perhatian publik, tetap merupakan masalah serius bagi dunia. Human traficking atau perdagangan manusia, yang sepatutnya tidak terjadi lagi di tingkat keberadaban dunia saat ini, telah berkembang ke tingkat yang memprihatinkan. Sementara penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang dalam genggaman jaringan sindikasi global semakin sulit teratasi.
Pemanasan global, sebagaimana terungkap dengan jelas dalam pertemuan dunia di Bali akhir 2007 lalu, merupakan persoalan yang akan semakin mengemuka di tahun-tahun mendatang. Mencairnya Kutub akibat pemanasan global tersebut akan dapat langsung berpengaruh pada kawasan-kawasan kepulauan seperti Indonesia. Tenggelamnya pulau akan mengurangi luas Indonesia, karena wilayah kedaulatan negara didasarkan pada titik pulau terluarnya. Perusakan hutan yang berlangsung sangat pesat, terutama hutan-hutan hujan tropis, telah menghancurkan paru-paru dunia. Kelangkaan air bersih juga telah menjadi masalah baru yang belum pernah dihadapi dunia di masa-masa yang lampau.
Benturan antarbangsa juga masih akan terjadi. Benturan itu tak selalu berupa benturan besar seperti ‘Benturan Peradaban’ yang diramalkan Samuel Huntington. Perbedaan sudut pandang antara paham kebebasan bereskspresi dengan penghormatan terhadap keyakinan beragama dapat menajam, dan bahkan menyakitkan. Itu yang terjadi pada kasus Kartun Nabi Muhanmad di koran Denmark. Persoalan tersebut telah memunculkan pertanyaan: Di mana batas kebebasan dengan penghargaan pada keyakinan yang berbeda? Dalam ekonomi, benturan antara dominasi perusahaan-perusahaan multi nasional dengan kepentingan lokal khususnya dalam pengelolaan sum berdaya alam, juga tak terhindarkan.
Persoalan yang semakin kompleks itulah yang dihadapi dunia hingga beberapa tahun ke depan. Persoalan dunia itu pula yang harus dihadapi Indonesia mendatang, di samping di dalam negeri yang tidak kalah rumitnya. Tantangan besar tersebut tak cukup dijawab dengan sekadar memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam pemilihan Tahun 2009 nanti.
Saudaraku!
Bangsa-bangsa lain telah bersiaga menghadapi dunia baru yang penuh tantangan tersebut. Filipina telah menyebarkan para pekerja menengahnya untuk mengisi pasar kerja di seluruh dunia. Thailand tengah membangun restoran-restoran masakan Thai pada hampir semua kota penting di berbagai negara untuk menjadi ujung tombak pemasaran pariwisatanya. India semakin mengukuhkan diri sebagai pusat pengembangan dan layanan Teknologi Informasi global. Singapura terus memperkuat posisi sebagai sentra jasa, keuangan, serta budaya terpenting di kawasan barat Asia Pasifik. Jepang dan bahkan Korea Selatan telah mengokohkan kedudukannya sebagai kekuatan utama dunia dalam industri mobil dan elektronika.
Di hadapan upaya besar bangsa-bangsa tetangga itu, apa yang akan diperbuat Indonesia? Apakah Indonesia cukup puas dengan menjual murah enerjinya seperti batubara dan gas, sementara negara lain seperti China mendapat berkah nilai tambah enerji itu pada perekonomiannya? Peradaban baru seperti apa yang harus dibangun bangsa ini agar dapat menghadapi masa depan dengan tegak? Budaya macam apa yang perlu dikembangkan yang sesuai untuk menopang peradaban baru tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan jawaban dari seluruh anak bangsa.
Dalam perekonomian, bangsa ini jelas bukan apa-apa dibanding dengan raksasa Amerika Serikat, Jepang, serta China. Indonesia bahkan masih kalah dibanding saudara serumpun Malaysia. Perbandingan komposisi perekonomian antar negara menunjukkan dengan jelas ketertinggalan kita. Kontribusi pertanian pada perekonomian secara keseluruhan masih sebesar 43,3 persen, sementara di China tinggal 11,3 persen. Sebaliknya, kontribusi industri dalam perekomian Indonesia baru 18 persen, sedang di China telah mencapai 48,6 persen. Di negara-negara maju, kontribusi terbesar pada ekonomi adalah dari sektor jasa seperti di Amerika (78 persen) serta Jepang (72 persen). Sebagai negara berkembang, India bahkan telah mampu mengandalkan jasa sebagai motor penggerak ekonominya. Jasa menyumbang 52 persen dari nilai perekonomian India yang berarti negara tersebut telah mampu mengandalkan kekuatan sumberdaya manusianya untuk meraih kemajuan.
Angka-angka tersebut bukan sekadar mencerminkan posisi ekonomi Indonesia dibanding dengan negara-negara besar dunia lainnya. Lebih dari itu, angka-angka itu juga menggambarkan wajah peradaban bangsa ini sekarang. Kontribusi pertanian yang tinggi serta peran jasa yang rendah menunjukkan bahwa Indonesia masih mengandalkan sumberdaya alam dan belum pada sumberdaya manusia dalam perekonomian. Kenyataan itu juga mencerminkan bahwa peradaban Indonesia sekarang masih tergantung pada budaya tradisional. Padahal budaya tradisional tak selalu siap memenuhi tuntutan peradaban masa depan.
Ketidaksiapan budaya bangsa untuk menyambut tantangan masa depan telah muncul dalam Polemik Kebudayaan di tahun 1930-an. Achdiat Karta Mihardja dalam pengantar kumpulan polemik itu menyebut bahwa sisa budaya feodal berpengaruh besar pada jiwa dan budaya bangsa. Pada masyarakat feodal, kehidupan ekonomi, sosial, dan politik dikendalikan sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekuasaan sangat besar. Masyarakat kebanyakan harus menerima keadaan yang apa adanya, termasuk menanggung kemiskinan. Itulah yang membuat jiwa mati dan bangsa ini menjadi bangsa yang statis. Kalah dalam kehidupan, masyarakat lalu menghibur diri dengan hal-hal yang bersifat takhayul dan mistis.
Untuk membongkar sifat statis tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana mengajak bangsa untuk mengadopsi nilai-nilai Barat. Baginya, bangsa ini harus menjadi bangsa yang dinamis, maju, serta berani memperjuangkan kepentingan sendiri. Karakter itu disebutnya ada pada bangsa-bangsa Barat sehingga Barat menguasai peradaban dunia beberapa abad terakhir. Gagasan mengadopsi budaya Barat itu mengundang reaksi para budayawan yang yakin pada kekuatan budaya lokal, sehingga memunculkan polemik serupa yang pernah terjadi di Jepang. Di Jepang, setelah Restorasi Meiji 1868 polemik demikian melahirkan sintesa budaya yang menjadi dasar peradaban baru Jepang. Yakni peradaban moderen yang membawa kemajuan namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya asli Jepang, Masakan ‘teriyaki’ dan ‘yakiniku’, serta prinsip manajemen Kaizen merupakan hasil sintesa budaya tersebut.
Di Indomesia, Polemik Kebudayaan dahulu itu belum menghasilkan sintesa budaya yang dapat membawa pada peradaban baru. Prioritas perjuangan saat itu untuk menyiapkan kemerdekaan, serta hiruk pikuk Perang Dunia II, membuat polemik penting tersebut tak berlanjut. Maka karakter bangsa yang dirisaukan para pemimpin tiga perempat abad silam, sampai sekarang belum hilang. Sisa warisan budaya feodal serta karakter statis terasa masih ada pada bangsa ini. Itu yang membuat Indonesia sulit mewujudkan cita-cita kemerdekaan seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut menciptakan perdamaian dunia. Karakter itu pula yang membuat Indonesia tidak siap bersaing di tingkat global dalam menghadapi masa depan yang menantang.
Saudara-saudaraku sebangsa dan se-Tanah Air
Hari-hari ini hingga beberapa waktu mendatang sungguh merupakan saat-saat penting bagi Indonesia. Bukan saja karena pada tahun ini Indonesia memperingati Seabad Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, serta 10 tahun Reformasi. Lebih dari itu, saat-saat sekarang juga merupakan saat Indonesia menjelang menghadapi peristiwa dan keadaan besar yang akan menentukan nasib bangsa di masa depan.
Pesta demokrasi 2009 akan segera dilangsungkan buat memilih wakil-wakilnya di lembaga legislatif, serta memilih presiden dan wakil presiden untuk masa`jabatan lima tahun ke depan. Hal tersebut akan benar-benar menentukan bagaimana wajah Indonesia mendatang. Tapi tidak berarti bahwa persoalan paling penting bagi Indonesia adalah siapa yang akan terpilih sebagai presiden dan wakil presiden mendatang. Lebih dari itu adalah ke mana kepala negara terpilih bersama seluruh bangsa ini akan membawa Indonesia ke depan, menghadapi persoalan dunia yang akan semakin menantang. Pertanyaan itulah yang sekarang harus dijawab seluruh bangsa ini, dan tentu juga oleh pemimpinnya.
Masalah politik, ekonomi, sosial, dan bahkan lingkungan yang dihadapi dunia telah sedemikian kait mengait tanpa terpisahkan. Sekat-sekat antarbangsa telah semakin menipis sebagaimana sekat antarbudaya, bahkan antardisiplin ilmu pengetahuan. Hubungan politik antarnegara secara umum memang telah semakin mencair. Tetapi pertikaian negara model lama masih terjadi seperti pada krisis Rusia-Georgia sekarang ini. Masalah Palestina yang menjadi persoalan paling rawan bagi upaya mewujudkan perdamaian dunia, belum pula terselesaikan. Konflik politik internal suatu negara seperti di Myanmar serta Zimbabwe sedikit banyak juga berpengaruh pada stabilitas dunia.
Di bidang ekonomi, ancaman kelesuan yang menbayangi perekonomian Amerika terus dicermati para ekonom, mengingat pengaruhnya yang besar bagi ekonomi dunia. Memang ada optimisme bahwa perekonomian Amerika akan segera membaik setelah Tahun 2009 yang juga berarti membaiknya perekonomian dunia. Tetapi saat ini, puncak kelesuan ekonomi tersebut belum terlewati. Kemajuan ekonomi Asia yang dimotori oleh pertumbuhan ekonomi China dan India diperkirakan akan segera mengubah peta perekonomian global. Namun laju pertambahan penduduk dunia, menipisnya cadangan minyak bumi, serta bayang-bayang keterbatasan kemampuan dunia dalam penyediaan pangan perlu diantisipasi.
Masalah sosial yang terkait dengan perekonomian yang masih membayangi dunia adalah kemiskinan. Masalah ini juga masih merupakan persoalan mendasar Indonesia sehingga badan-badan dunia menekankan agar pengentasannya diprioritaskan. Sebanyak 34,96 juta warga miskin menurut ukuran pemerintah, atau lebih dari dua kali lipat jumlah itu menurut ukuran Bank Dunia, bukan angka yang sedikit untuk diabaikan. Tingkat partisipasi pendidikan yang rendah pada sebagian masyarakat dunia juga merupakan persoalan bagi Indonesia.
Tingkat kematian ibu dan balita, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dan bahkan ancaman Tuberculosis, yang cenderung luput dari perhatian publik, tetap merupakan masalah serius bagi dunia. Human traficking atau perdagangan manusia, yang sepatutnya tidak terjadi lagi di tingkat keberadaban dunia saat ini, telah berkembang ke tingkat yang memprihatinkan. Sementara penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang dalam genggaman jaringan sindikasi global semakin sulit teratasi.
Pemanasan global, sebagaimana terungkap dengan jelas dalam pertemuan dunia di Bali akhir 2007 lalu, merupakan persoalan yang akan semakin mengemuka di tahun-tahun mendatang. Mencairnya Kutub akibat pemanasan global tersebut akan dapat langsung berpengaruh pada kawasan-kawasan kepulauan seperti Indonesia. Tenggelamnya pulau akan mengurangi luas Indonesia, karena wilayah kedaulatan negara didasarkan pada titik pulau terluarnya. Perusakan hutan yang berlangsung sangat pesat, terutama hutan-hutan hujan tropis, telah menghancurkan paru-paru dunia. Kelangkaan air bersih juga telah menjadi masalah baru yang belum pernah dihadapi dunia di masa-masa yang lampau.
Benturan antarbangsa juga masih akan terjadi. Benturan itu tak selalu berupa benturan besar seperti ‘Benturan Peradaban’ yang diramalkan Samuel Huntington. Perbedaan sudut pandang antara paham kebebasan bereskspresi dengan penghormatan terhadap keyakinan beragama dapat menajam, dan bahkan menyakitkan. Itu yang terjadi pada kasus Kartun Nabi Muhanmad di koran Denmark. Persoalan tersebut telah memunculkan pertanyaan: Di mana batas kebebasan dengan penghargaan pada keyakinan yang berbeda? Dalam ekonomi, benturan antara dominasi perusahaan-perusahaan multi nasional dengan kepentingan lokal khususnya dalam pengelolaan sum berdaya alam, juga tak terhindarkan.
Persoalan yang semakin kompleks itulah yang dihadapi dunia hingga beberapa tahun ke depan. Persoalan dunia itu pula yang harus dihadapi Indonesia mendatang, di samping di dalam negeri yang tidak kalah rumitnya. Tantangan besar tersebut tak cukup dijawab dengan sekadar memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam pemilihan Tahun 2009 nanti.
Saudaraku!
Bangsa-bangsa lain telah bersiaga menghadapi dunia baru yang penuh tantangan tersebut. Filipina telah menyebarkan para pekerja menengahnya untuk mengisi pasar kerja di seluruh dunia. Thailand tengah membangun restoran-restoran masakan Thai pada hampir semua kota penting di berbagai negara untuk menjadi ujung tombak pemasaran pariwisatanya. India semakin mengukuhkan diri sebagai pusat pengembangan dan layanan Teknologi Informasi global. Singapura terus memperkuat posisi sebagai sentra jasa, keuangan, serta budaya terpenting di kawasan barat Asia Pasifik. Jepang dan bahkan Korea Selatan telah mengokohkan kedudukannya sebagai kekuatan utama dunia dalam industri mobil dan elektronika.
Di hadapan upaya besar bangsa-bangsa tetangga itu, apa yang akan diperbuat Indonesia? Apakah Indonesia cukup puas dengan menjual murah enerjinya seperti batubara dan gas, sementara negara lain seperti China mendapat berkah nilai tambah enerji itu pada perekonomiannya? Peradaban baru seperti apa yang harus dibangun bangsa ini agar dapat menghadapi masa depan dengan tegak? Budaya macam apa yang perlu dikembangkan yang sesuai untuk menopang peradaban baru tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan jawaban dari seluruh anak bangsa.
Dalam perekonomian, bangsa ini jelas bukan apa-apa dibanding dengan raksasa Amerika Serikat, Jepang, serta China. Indonesia bahkan masih kalah dibanding saudara serumpun Malaysia. Perbandingan komposisi perekonomian antar negara menunjukkan dengan jelas ketertinggalan kita. Kontribusi pertanian pada perekonomian secara keseluruhan masih sebesar 43,3 persen, sementara di China tinggal 11,3 persen. Sebaliknya, kontribusi industri dalam perekomian Indonesia baru 18 persen, sedang di China telah mencapai 48,6 persen. Di negara-negara maju, kontribusi terbesar pada ekonomi adalah dari sektor jasa seperti di Amerika (78 persen) serta Jepang (72 persen). Sebagai negara berkembang, India bahkan telah mampu mengandalkan jasa sebagai motor penggerak ekonominya. Jasa menyumbang 52 persen dari nilai perekonomian India yang berarti negara tersebut telah mampu mengandalkan kekuatan sumberdaya manusianya untuk meraih kemajuan.
Angka-angka tersebut bukan sekadar mencerminkan posisi ekonomi Indonesia dibanding dengan negara-negara besar dunia lainnya. Lebih dari itu, angka-angka itu juga menggambarkan wajah peradaban bangsa ini sekarang. Kontribusi pertanian yang tinggi serta peran jasa yang rendah menunjukkan bahwa Indonesia masih mengandalkan sumberdaya alam dan belum pada sumberdaya manusia dalam perekonomian. Kenyataan itu juga mencerminkan bahwa peradaban Indonesia sekarang masih tergantung pada budaya tradisional. Padahal budaya tradisional tak selalu siap memenuhi tuntutan peradaban masa depan.
Ketidaksiapan budaya bangsa untuk menyambut tantangan masa depan telah muncul dalam Polemik Kebudayaan di tahun 1930-an. Achdiat Karta Mihardja dalam pengantar kumpulan polemik itu menyebut bahwa sisa budaya feodal berpengaruh besar pada jiwa dan budaya bangsa. Pada masyarakat feodal, kehidupan ekonomi, sosial, dan politik dikendalikan sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekuasaan sangat besar. Masyarakat kebanyakan harus menerima keadaan yang apa adanya, termasuk menanggung kemiskinan. Itulah yang membuat jiwa mati dan bangsa ini menjadi bangsa yang statis. Kalah dalam kehidupan, masyarakat lalu menghibur diri dengan hal-hal yang bersifat takhayul dan mistis.
Untuk membongkar sifat statis tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana mengajak bangsa untuk mengadopsi nilai-nilai Barat. Baginya, bangsa ini harus menjadi bangsa yang dinamis, maju, serta berani memperjuangkan kepentingan sendiri. Karakter itu disebutnya ada pada bangsa-bangsa Barat sehingga Barat menguasai peradaban dunia beberapa abad terakhir. Gagasan mengadopsi budaya Barat itu mengundang reaksi para budayawan yang yakin pada kekuatan budaya lokal, sehingga memunculkan polemik serupa yang pernah terjadi di Jepang. Di Jepang, setelah Restorasi Meiji 1868 polemik demikian melahirkan sintesa budaya yang menjadi dasar peradaban baru Jepang. Yakni peradaban moderen yang membawa kemajuan namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya asli Jepang, Masakan ‘teriyaki’ dan ‘yakiniku’, serta prinsip manajemen Kaizen merupakan hasil sintesa budaya tersebut.
Di Indomesia, Polemik Kebudayaan dahulu itu belum menghasilkan sintesa budaya yang dapat membawa pada peradaban baru. Prioritas perjuangan saat itu untuk menyiapkan kemerdekaan, serta hiruk pikuk Perang Dunia II, membuat polemik penting tersebut tak berlanjut. Maka karakter bangsa yang dirisaukan para pemimpin tiga perempat abad silam, sampai sekarang belum hilang. Sisa warisan budaya feodal serta karakter statis terasa masih ada pada bangsa ini. Itu yang membuat Indonesia sulit mewujudkan cita-cita kemerdekaan seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut menciptakan perdamaian dunia. Karakter itu pula yang membuat Indonesia tidak siap bersaing di tingkat global dalam menghadapi masa depan yang menantang.
Langganan:
Postingan (Atom)