Selasa, 01 Juni 2010

Dampak IPTEK terhadap Kehidupan dan Sistem Pendidikan

Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia pada zaman dulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi, yaitu teknologi sederhana.
Terkait dengan teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan masalah. Ahli lain, Kast & Rosenweig menyatakan Technology is the art of utilizing scientific knowledge. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang definisi teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia.
Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Seseorang menggunakan teknologi, karena menusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih mudah, lebih aman, dan lebih-lebih yang lain.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang menggunakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat pakar teknologi "dunia" terhadap pengembangan teknologi.
Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu :
1. Pesawat terbang,
2. Maritim dan perkapalan,
3. Alat transportasi,
4. Elektronika dan komunikasi,
5. Energi,
6. Rekayasa ,
7. Alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan
8. Pertahanan dan keamanan
Pada satu sisi, perkembangan dunia iptek yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan. Begitupula dengan telah ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia.
Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Namun, pada sisi lain, pesatnya kemajuan iptek ternyata juga cukup banyak membawa pengaruh negatif. Semakin kuatnya gejala "dehumanisasi", tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan dewasa ini, merupakan salah satu oleh-oleh yang dibawa kemajuan iptek tersebut. Bahkan, sampai tataran tertentu, dampak negatif dari peradaban yang tinggi itu dapat melahirkan kecenderungan pengingkaran manusia sebagai homo-religousus atau makhluk teomorfis.
Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagian dan imortalitas.
Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia.
Perbudakan dan penjajahan di North America, Asia dan Afrika hanya memungkinkan melalui dukungan iptek. Perkembangan iptek di Eropa Barat membuahkan revolusi industri yang menindas kelas pekerja dan yang melahirkan komunisme. Produksi weapons of mass destruction, baik kimia, biologi ataupun nuklir tentu saja tidak bisa dipisahkan dari iptek, belum lagi menyebut kerusakan
Ekosistem alam akibat dari kemajuan iptek.

Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan,oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.
Dari segala dampak terburuk dari perkembangan iptek adalah dampak terhadap perilaku dari manusia penciptanya. Iptek telah membuat sang penciptanya dihinggapi sikap over confidence dan superioritas tidak saja terhadap alam lingkungan melainkan pula terhadap sesamanya. Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat (negara Barat) terhadap pihak yang lemah (negara dunia ketiga) merupakan ciri yang melekat sejak lahirnya revolusi industri.
Oleh karena itu, dalam menghadapi fenomena ini pemerintah dianggap perlu mengembangkan suatu sistem pendidikan yang berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi tersebut. Tujuannya sangat sederhana, membuat pelajar-pelajar di negeri kita dapat bersaing dan mengejar ketertinggalan dari pelajar di negeri maju tanpa perlu kehilangan nilai-nilai kemanusian dan budaya yang kita miliki. Atau dengan kata lain, peserta didik di jenjang pendidikan dasar perlu diarahkan dan dibekali pendidikan teknologi guna menuju masyarakat yang "melek teknologi" yaitu bercirikan mampu mengenal, mengerti, memilih, menggunakan, memelihara, memperbaiki, menilai, menghasilkan produk teknologi sederhana, dan peduli terhadap masalah yang berkaitan dengan teknologi.
Bahan kajian yang diperuntukkan bagi jenjang pendidikan dasar dapat mencakup ranah teknologi dan masyarakat, produk teknologi, serta perancangan dan pembuatan karya teknologi sederhana. Agar perolehannya bermakna, maka pembelajaran kurikulum pendidikan teknologi hendaknya berintikan pemecahan masalah dengan pendekatan empat pilar belajar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Dalam mengembangkan kurikulum, salah satu prinsip yang perlu diperhatikan adalah "sesuai dengan kebutuhan". Namun, kesepakatan ini baru menjadi masalah bila diikuti pertanyaan lanjutan, misalnya kebutuhan siapa? untuk masyarakat yang mana? masyarakat yang mau diarahkan ke mana? masyarakat agraris, masyarakat industri, masyarakat saat ini, masyarakat tahun 2005, atau masyarakat yang melek teknologi.
Kurikulum sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan selalu mendapat sorotan masyarakat termasuk pejabat, ilmuwan, kalangan industri, orang tua dan lain-lain yang merasa berkepentingan dengan hasil-hasil pendidikan. Bahkan, Winarno Surakhmad, (2000:2) mensinyalir bahwa kurikulum yang diciptakan untuk "Memecahkan Masalah Tertentu Ternyata Lahir Justru sebagai Masalah". Oleh karenanya, pengembang kurikulum harus dapat menganalisis, mengadakan koreksi terhadap kekurangan-kekurangannya dan mencari alternatif pemecahan masalah yang kreatif, inovatif dan misioner.
Soedijarto (1993:125) mengemukakan bahwa dalam menghadapi abad ke-21 ada tiga indikator utama dari hasil pendidikan yang bermutu dan tercermin dari kemampuan pribadi lulusannya, yaitu :
1. Kemampuan untuk bertahan dalam kehidupan,
2. Kemampuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan baik dalam segi sosial budaya dalam segi politik dalam segi ekonomi maupun dalam segi fisik biologis, dan

3. Kemampuan untuk belajar terus pada pendidikan lanjutan. Sementara itu, Wardiman (1996: 3) menyatakan bahwa pendidikan hendaknya dapat meningkatkan kreativitas, etos kerja dan wawasan keunggulan peserta didik.
Dari dua pendapat tersebut nampaknya terdapat kesamaan misi dan visi yang didasarkan pada kenyataan bahwa dunia nyata yang akan dihadapi oleh para peserta didik penuh dengan persaingan. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan guna mengantisipasinya dan dapat mencari alternatif penyelesaian masalah kehidupan yang dihadapinya.
Salah satu masalah kehidupan yang akan dihadapi para lulusan peserta didik adalah adanya perubahan masa yang akan datang yang belum pasti bentuk dan arahnya. Namun, yang pasti adalah adanya tantangan yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia yang salah satunya berwujud teknologi.
Atas dasar landasan pemikiran tersebut di atas, maka ruang lingkup kajian pendidikan teknologi yang dikembangkan dapat mencakup sebagai berikut :
1. Pilar teknologi, yaitu aspek-aspek yang diproses untuk menghasilkan sesuatu produk teknologi yang merupakan bahan ajar tentang: materi/bahan, energi, dan informasi,
2. Domain teknologi, yaitu suatu fokus bahan kajian yang digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan bahan pelajaran yang terdiri atas :
a. teknologi dan masyarakat (berintikan teknologi untuk kehidupan sehari-hari, industri, profesi, dan lingkupan hidup),
b. produk teknologi dan sistem (berintikan bahan, energi dan informasi),
c. perancangan dan pembuatan karya teknologi (berintikan gambar dan perancangan, pembuatan dan kaji ulang perancangan), dan
3. Area teknologi, yaitu batas kawasan teknologi dalam program pendidikan teknologi, hal ini antara lain teknologi produksi, teknologi komunikasi, teknologi energi dan bioteknologi.
Dengan ketiga ruang lingkup ini, maka pada dasarnya dalam pembelajaran pendidikan teknologi peserta didik akan memiliki kemampuan-kemampuan dalam hal :
1. Menggunakan dan memelihara produk teknologi,
2. Menyadari tentang proses teknologi dengan prinsip kerjanya,
3. Menyadari dampak teknologi terhadap manusia,
4. Mampu "mengevaluasi" proses dan produk teknologi, dan
5. Mampu membuat hasil teknologi alternatif yang disederhanakan bahkan yang paling sederhana.
Dari tujuan dan lingkup pendidikan teknologi di atas, berikut ini adalah pokok-pokok bahan ajar yang dianggap "ampuh" untuk peserta didik di jenjang pendidikan dasar (BTE, 1998), antara lain yaitu: Keterampilan dasar teknik, Penjernihan air, Bioteknologi, Pengolahan macam-macam bahan, Teknologi dan profesi, Teknologi produksi, Persambungan dan penguatan konstruksi, Konversi energi, Prinsip-prinsip teknik, Sistem teknik (mesin dan reka cipta), Transportasi dan navigasi, Teknologi dan lingkungan hidup, Instalasi listrik, Komunikasi, Komputer dan teknologi kontrol, Desain teknologi terapan, dan Usaha milik sendiri
Agar perolehan peserta didik menjadi bermakna, maka pendidikan teknologi harus dirancang dengan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan kemampuan memecahkan masalah, mampu berpikir alternatif, dan mampu menilai sendiri hasil karyanya.
Hal ini amat selaras dengan Soedijarto (2000: 69) yang merekomendasikan bahwa untuk memasuki abad ke-21 dalam proses pembelajaran diperlukan:
1. Learning to know, yaitu peserta didik akan dapat memahami dan menghayati bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh dari fenomena yang terdapat dalam lingkungannya. Dengan pendekatan ini diharapkan akan lahir generasi yang memiliki kepercayaan bahwa manusia sebagai kalifah Tuhan di bumi diberi kemampuan untuk mengelola dan mendayagunakan alam bagi kemajuan taraf hidup manusia,
2. Learning to do, yaitu menerapkan suatu upaya agar peserta didik menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang bermakna,
3. Learning to be, yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik yang mandiri, dan
4. Learning to live together, yaitu pendekatan melalui penerapan paradigma ilmu pengetahuan, seperti pendekatan menemukan dan pendekatan menyelidik akan memungkinkan peserta didik menemukan kebahagiaan dalam belajar.
Hal yang juga tak kalah pentingnya dalam mendukung sistem pendidikan berbasis teknologi itu adalah menyelaraskan pengajaran iptek dengan iman dan taqwa (imtaq). Karena bagaimanapun, kecerdasan seseorang tidak akan membawa dampak positif yang berarti apabila mereka tidak bermoral. Mereka bisa saja menjadi ahli kimia yang handal, akan tetapi tanpa dibekali moral, kemampuan mereka hanya akan digunakan untuk menciptakan senjata-senjata kimiawi yang dapat menghancurkan umat manusia. Sebaliknya dengan moral yang baik, mereka dapat menemukan bahan bakar alternatif yang dapat bermanfaat di tengah krisis minyak yang terjadi di dunia pada abad ini.

Sumber http://gumuxranger.web.id/documents/dampak_kemajuan_ilmu_pengetahuan_dan_teknologi__ip.html

Fenomena Remaja di Era Global

Di pojok belakang ruangan sebuah SMU, saat proses belajar-mengajar berlangsung, beberapa siswa tampak cekikikan, dan sesekali terdiam, saat ibu guru menoleh ke arah mereka. Dari raut muka mereka menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan dan membuat sedikit curiga ibu guru. Tetapi ibu guru hanya mendiamkan saja. Ia membatin, paling mereka hanya bercanda dengan sesama temannya. Selang beberapa hari beredar kabar, bahwa banyak siswa yang menyimpan film porno (blue film) dalam memory card hp (handphone) mereka.

Mendengar semilir kabar tersebut, ibu guru mengingat kejadian tempo hari di kelasnya. Ia mengaitkannya dengan desas-desus tersebut. Kemudian ibu guru tersebut langsung membicarakan dugaannya kepada kepala sekolah. Satu hari kemudian, menjelang istirahat, ada pengumuman dari kantor BP, agar setiap guru memeriksa tas setiap siswa. Setelah acara razia berlangsung, ternyata banyak ditemukan HP yang menyimpan film polos dari tas beberapa siswa-siswi.

Kejadian ini bukan rekaan semata, tetapi sungguh terjadi di salah satu sekolah di Yogyakarta. Kasus di atas setidaknya membawa kita untuk berfikir bahwa inilah satu sisi negatif dampak globalisasi, walau pada sisi lain membawa nilai positif. Perangkat teknologi multimedia mutakhir telah menjadikan sesuatu serba mungkin; dan menghadirkan sesuatu di hadapan Anda tanpa membutuhkan banyak ruang dan waktu.

Memahami Globalisasi
Makanan apa sebenarnya globalisasi itu? Sehingga semua orang mengamini �ideologi’ ini. Istilah Marshal Mc Luhan mengupamakan dunia ini sebagai desa buana (global village), dimana desa buana ini ditandai dengan hilangnya semua batas yang ada di dunia. Entah itu batas ruang, waktu, budaya, nilai, moral, agama, dll. Misalnya kita dapat melihat bagaimana remaja usia belia berasyik masyuk mengakses pornografi di warnet. Sejak mulai ia mengakses hardcore (pesta seks berpasangan), softcore (tanpa pasangan) sex machine (pesta seks dengan perangkat mesin), sadomasochist (seks dengan variasi kekerasan), sampai seks yang melibatkan manusia dengan binatang.

Di sini hilang sudah batas dunia usia dewasa, remaja, dan anak-anak. Pornografi yang sangat gamblang disajikan melalui teknologi multimedia ini memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengaksesnya tanpa halangan batas-batas umur.

Hilangnya batas budaya juga sangat kentara revolusinya. Hal ini dapat kita saksikan, bagaimana proses penyeragaman pakaian, gaya rambut, bahkan kepribadian remaja di dunia berlangsung. Mengusung selebritis yang dijadikan idola melalui media, dengan style pakaian, rambut, gaya hidup tertentu, cukup ampuh membuat remaja tersihir mengikuti trend tersebut. Jangan heran jika apa yang dipakai Britney Spears hari ini saat konser di Amerika, lusa sudah jutaan remaja Indonesia “copy-an� Britney Spears tersebar di jalan-jalan, dan mal-mal di negeri ini.

Efek dari pudarnya batas-batas tersebut, menjurus kepada proses penyeragaman mondial, yang mengakibatkan kepada punahnya khazanah budaya regional, maupun lokal, yang menjadi ciri kepribadian sebuah bangsa, termasuk juga agama.

Sebagian orang menunjuk bahwa dalang penyeragaman ini adalah Amerika. Argumennya merujuk kepada penanaman ideologi kapitalisme yang dibangun melalui media, ilmu pengetahuan; entah itu melalui film, kontes-kontes, dan acara rendezvous lainnya.

Sebagian orang memilih bahwa tidak ada dalang dalam proses penyeragaman ini. Layaknya hukum yang berlaku dalam globalisasi, yang ada hanyalah persaingan budaya yang serba ketat dan cepat. Hukum persaingannya sudah melampaui persaingan ala Darwinian yang berujar siapa yang mampu bertahan merekalah yang akan terus hidup (survival of the fites). Tetapi capainnya sudah pada siapa yang mampu menyerang dialah yang akan terus hidup (homo homini lupus).

Dalam persaingan ini kadang bisa saja tawaran budaya dari dunia Barat tidak mempunyai tempat, dan belahan dunia lain (Asia Tenggara) mampu menjadi icon budaya yang diamini sebagian besar remaja di dunia. Kasus ini dapat kita temukan pada gaya rambut rebounding yang meniru gaya F4 yang berasal dari Taiwan; merebaknya celana ala korea, kartun Jepang yang beredar di pasar-pasar Indonesia; dan musik gamelan, mocopat yang digemari oleh remaja di New York Amerika Serikat.

Sikap Kita
Contoh-contoh di atas memberi pengertian kepada kita bahwa dalam globalisasi hukum persaingan, transparansi, sangat dominan. Selain itu, proses penyeragaman dan pertukaran budaya antar masing-masing bangsa tengah berlangsung. Jadi sudah sepantasnya kita sebagai remaja muslim dan warga negara Indonesia mempertahankan apa yang menjadi milik budaya kita. Seperti diutarakan Sejarawan Senior Kuntowijoyo, bahwa budaya adalah identitas, dan agama adalah nilai dan makna dalam hidup. Sudah seharusnya kita menjadi tuan bagi budaya kita, dan sebatas penonton bagi budaya bangsa lain.

Kita tidak bisa dengan buta meniru budaya orang lain, karena kita selamanya akan terasing (alienasi) dari diri pribadi yang menganut budaya, agama, dan norma sangat berlainan dengan orang lain. Mengapa terasing? Karena kita tidak pernah memutuskan terhadap diri kita, pribadi kita hanya bentuk jelmaan dari idola-idola yang telah diseting di pentas. Dan di belakang para idola adalah mereka para pemodal-pemodal yang menginginkan pakaian dan kosmetik mereka terjual, dan sasaran konsumennya adalah kita. Itulah yang disebut kapitalisme.[Ahmad Saifullah Ahsa - Penulis aktif di Lembaga Kajian KUTUB Yogyakarta]

Sumber www.gaulislam.com