Masa berubah, zaman berganti ! “Inna az zaman qad istadaara ...”.
Keadaan, sitausi dan kondisi senantiasa mengalami perubahan . Begitulah Sunatullah. Yang Kekal hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang membuat Sunnatullah itu saja. Aturan-aturan telah ditetapkan oleh Allah, Maha Pencipta.
Menjelang berakhirnya alaf kedua dan memasuki abad baru – abad keduapuluh satu --, sebagai awal Alaf Baru, suatu kenya¬taan adalah terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Ditandai oleh lajunya teknologi komuni¬kasi dan informasi (information technology) .
Gejala yang acapkali disebut arus globalisasi, diringi dengan program-program mendunia dengan menampilkan beberapa ciri kebebasan, antara lain "perdagangan bebas” yang tentu saja akan menampilkan per¬saingan yang tinggi dan tajam. Sebenarnya globalisasi berarti pula suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, the act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.
Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, ditemui dalam kenyataan sering terlepas dari sistim nilai dan budaya. Perkembangan ini sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. Suka atau tidak bila tidak disikapi dengan kearifan dan kesadaran pembentengan umat, pasti akan menampilkan benturan-benturan psikologis dan sosiologis.
Pada Era globalisasi telah terjadi perubahan perubahan cepat. Dunia menjadi transparan, terasa sempit, hubungan menjadi sangat mudah dan dekat, jarak waktu seakan tidak terasa dan seakan pula tanpa batas.
Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
PERUBAHAN OLEH ARUS GLOBALISASI
1. Menggeser Pola Hidup Masyarakat. Dari agraris tradisional menjadi masyarakat industri modern. Dari kehidupan berasaskan kebersa¬maan, kepada kehidupan individualis. Dari lamban kepada serba cepat.
Dari berasas nilai sosial menjadi konsumeris materi¬alis. Dari tata kehidupan tergantung dari alam kepada kehi¬dupan menguasai alam. Dari kepemimpinan formal kepada kepe¬mimpinan kecakapan (profesional).
2. Pertumbuhan Ekonomi. Globalisasi bergerak kesana kemari. Tidak samata satu arah. Hala atau arahnya akan menyangkut langsung kepentingan sosial pada masing masing negara. Keberbagaian atau keragaman yang berlaku selama ini berkesempatan untuk berubah bentuk menjadi seragam dan serupa. Atau berlainan wadah serupa isi. Masing masing negara (bangsa, nation) akan berjuang memelihara kepentingannya sendiri-sendiri. Kecenderungan sikap kurang memperhatikan nasib negara negara lain akan merupakan kewajaran saja. Kecenderungan ini berpeluan melahirkan kembali "Social Darwinism", secara konseptual didalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).
Kondisi ini banyak miripnya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat dizaman jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja'far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke 7, yang nota bene berada di alaf pertama. Perilaku masyarakat Jahiliyah antara lain mengagungkan materi (berhala), mengabaikan kaedah-kaedah halal-haram, memutus hubungan silaturrahim, berbuat anarkis dan kegaduhan terhadap masyarakat (tetangga, bangsa,negara), yang kuat menelan yang lemah. Ungkapan Ja’far Bin Abi Thalib, seperti dapat ditemui dalam kitab Al Islam Ruhul Madaniyah tulisan dari assy Syaikh Musthafa al Ghulayaini, terungkap sebagai berikut,"Kunna nahnu jahiliyyah, na’budul ashnam, wa na’kulul maitah, wa nuqat-ti’ul arham, wa nusi-ul-jiwaar, wa nakkul ul qawiyyu minna dha'ifun minna," artinya: "Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke-mampuan menelan yang lemah di antara kami."
Kehidupan sosial jahiliyyah telah dapat diperbaiki oleh Islam dengan diutusnya Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan kekuatan Wahyu Allah. Penerapan ajaran agama sesuai dengan syari'at Islam diawali dengan menerapkan secara pasti ajaran tauhid dalam semua gerak ibadah dan tauhid. Begitu juga dalam setiap hubungan serta perilaku hidup social. Sertamerta masyarakat jahiliyah itu bisa diperbaiki dan dirubah menjadi masyarakat beradab dan maju. Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu sesuai Firman Allah, "Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu." (Q.S. 2: 141)
DAMPAK GLOBALISASI
Globalisasi membawa banyak tantangan baik itu menyangkut bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Namun, globalisasi juga menjanjikan harapan harapan dan kemajuan. Diantara harapan dan kemajuan yang menjanjikan, adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, pada negara-negara yang rajin dan bersungguh-sungguh. Pertumbuhan ekonomi adalah alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat, termasuk bagi bangsa Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara. Sebelum terjadinya krisis ekonomi 1997 -dampaknya masih terasa hingga hingga sekarang --, dalam tiga dasawarsa (1967-1997) beberapa negara dikawasan serumpun Asean telah menikmati pertumbuhan ekonomi pesat.
Bank Dunia menyebut beberapa negara dikawasan ini sebagai "The Eight East Asian Miracle", yang tumbuh menjadi macan Asia diantaranya Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia. Dibidang ekonomi ini, negara negara Asean menikmati pertumbu¬han rata rata 7 8 % pertahun waktu itu, sementara Amerika dan Uni Eropa hanya berkesempatan menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi rata rata 2,5 sampai 3 % pertahun. Pertambahan penduduk Asean sekitar 350 juta, bisa saja bertambah banyak ditahun 2003 saat memasuki AFTA. Populasi itu diperkirakan akan mencapai jumlah yang besar, mungkin 500 juta (Adi Sasono, Cides, 1997). Bila pertumbuhan ekonomi ini dapat dipelihara, Insya Allah pada tahun 2019, saat skenario APEC, maka kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia. Kemungkinan sekali, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994). Apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang orang di sekeliling. Pertumbuhan ekonomi itu tidak bertahan lama. Beberapa negara menjadi lumpuh berhadapan dengan multi krisis tersebab fondasinya tidak mengakar dan ketahanan umatnya lemah. Lanjutannya, maka bangsa serumpun akan berhadapan dengan "Global Capitalism". Kalau kita tidak hati hati keadaan ini akan bergeser menjadi "Capitalism Imperialism" menggantikan "Colonial¬ism Imperialis" yang sudah kita halau sejak lebih setengah abad silam. Dengan "Capitalism Imperialism" kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah. Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama pada generasi muda (para remaja).
MASALAH REMAJA
Dunia remaja akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena yang tidak menggembirakan.
a. Banyaknya tawuran pelajar, pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa.
b. Pornografi yang susah dibendung. Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan bolos sekolah.
c. Kesukaan terhadap minuman keras.
d. Kecanduan terhadap ectasy (XTC), menjadi budak kokain dan morfin.
e. Kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, world-wide sing, dan sejenisnya.
Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih yang terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan, suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” --the loses generation -- yang tidak memiliki keberanian ikut serta didalam perlombaan dan percaturan gelombang era globalisasi. Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.
Penyebab utama karena;
a. rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.
b. diperparah oleh hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan orang tua,
c. luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat,
d. impotensi dikalangan pemangku adat, dan hilangnya wibawa ulama,
e. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi guru dilecehkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar